Aku & Zalome

January 25, 2008

Kami bercinta pada detik ini. Bertelanjang dan membiarkan tubuh kami hanya dibungkus dengan udara sembari kamipun berkoitus dengannya. Dan telah beberapa juta detik kami telah bertelanjang hari, Aku dan perempuan ini, bertemu dalam detik yang kami lupa. Yang kuingat kami bertemu di suatu sore dan dia sedang membawa sekantong sampah yang hampir dilemparkannya padaku. Dan aku sedang menikmati hari yang hampir senja ketika melewati jalan yang sama, tak berapa jauh dari ruko tempat usaha ayahku. Segera, setelah basa-basi emosi, kami memutuskan tersenyum. Setelah itu,semua sampah telah kami buang bersama hingga tiba di detik ini. Dengan tidak membebani hati kami dengan emosi yang berat kami berpura-pura mau mati bersama dalam gairah ini. Hanya dengan senggama yang sengaja, kami lelahkan jiwa di setiap regangan orgasme yang tiba di beberapa detik, sebelum dia menggeliat puas, lalu dia pergi ke dunianya. Apakah artinya emosi di titik akhir ini?    

Perempuan yang mengangkat kedua kakinya setelah mengangkang di bawah perutku ini adalah satu-satunya perempuan yang namanya tidak pernah kusebutkan dengan benar, ZALOME – itu yang pernah kusebutkan dengan benar setelah dia menggambar senyum di bibir yang merah itu, jika secara tidak sengaja kupanggil dia dengan MOME itu karena teman-temannya sering memanggilnya Momi, Momo atau apalah yang sejenis itu. Entah apa artinya, aku tidak pernah menanyakan artinya apa, tapi sudah tersirat dengan jelas dia senang dipanggil MOME. Dari setiap kesalahanku sering kusebutkan dia dengan MOMENT, yang seperti momen ini, dia masih terbaring telanjang dengan wajah polos tak berdosa dan tak perawan.“Aku tahu Tuhanku pasti terharu melihat percintaan kita!” kata-kata ini menyela lamunanku. Dia bahkan lebih kokoh dari keyakinannya itu, lebih kuat dari keyakinanku bahwa Tuhan yang aku percaya adalah pemurah seperti Tuhannya.“Sampaikan salamku pada Tuhanmu! Sudah kau katakana padaNya kalau aku menginginkanmu lebih dari Dia?” aku terenggah pada akhir tanya ini, sedikit tersekat di rongga paling sesak di dunia yaitu rongga terlembut miliknya. Dia mengerang, lalu mengukir senyum dengan sedikit tawa.“Dia pasti cemburu padamu!”Akut ak mengerti apa arti senyumannya itu, kucoba mencari jawabnya dengan menciumnnya. Tapi, Apakah artinya emosi di titik akhir ini? 

Aku menarik dadanya ke bibirku hingga kutelan kembali gunung-gunung yang sekiranya dapat kudaki dengan lidah basah. Sedangkan airmata yang basahi setiap hasrat ini tak mampu melangkahkan kakiku ke gunungnya. Dia adalah gunung yang tak pernah kutemui puncaknya, dan mungkin dia adalah awan yang menggelantung di sana sehingga aku tak bisa menggapainya. Dia terlalu tinggi untuk kucapai hanya dengan sekedar koitus sore ini. Ada apa denganku, gunung yang kutahu tak ada puncaknya ini adalah justru yang telah menarikku mendakinya dengan ajaib. Aku tak pernah bermimpi menuruni gunung ini atau bahkan berhenti bermimpi bahwa gunung itu tidak ada. Gunung yang lekuk selangkangannya sudah terekam di seluruh organ tubuhku, yang setiap aroma tubuhnya telah membangunkan ku setiap pagi, yang setiap hentakannya membangkitkan aku dari kematian, yang setiap pemandangannya membuka mataku dan menyadari bahwa masih ada dunia di mataku. Tidak ada yang lebih luar biasa dari ini, aku kasmaran dan tersesat disini. Atau aku bagai anak sungai yang patuh mengalir mengitarinya, tetap setia merespon setiap kali dia memenuhi kanal-kanal keringku dengan air yang didapatnya dari hujan. Gunung itu, tidak pernah kubayangkan jika Tuhan tak mengijinkan airnya beranjak padaku.Aku mengingat dia pernah terkejut ketika kukatakan,“Mome, aku pasti mati jika kau meninggalkan aku!” Dia menatapku dan hawa kebenaran ada di irama tuturnya.“Aku tak akan menangis kalau kau mati, karena aku tidak mau mati sepertimu, itu bodoh, Lelakiku! Karena aku hidup, maka kaupun harus hidup! Pandangan hanya membutakan hati kita! Pindahkan mata itu dihatimu, agar jika kau tak melihatku kau masih yakin aku ada di dekatmu! Matamu yang sekarang kau gunakan masih menerjemahkan hal-hal naïf ke otakmu seperti hal perpisahan. Perpisahan tidak akan membunuhmu, aku, kita!!”Aku terdiam, dia selalu benar. Setelah pergi aku baru bisa memahami seluruh maksud emosinya. Oleh karena itulah aku pernah mau bunuh diri ketika berusaha menenangkan hatiku saat bersamanya suatu ketika sebelum kami benar-benar bercinta. Pembenarannyalah yang menyadarkan aku dari setiap kesalahan yang kukemas bertahun-tahun. Masalah cintaku yang patah, hati yang luka, dia tidak pernah datang mengobatinya tapi dia datang mengangkat semua luka itu dan membuangnya jauh-jauh dari hatiku. Aku bahkan lupa kalau aku pernah jatuh cinta dan luka sebelum mengenalnya.“ Siapa laki-laki yang pernah mencintaimu, Mome?”Dia tersenyum lagi, “ Hanya kau. Dere!”Akupun tersenyum, apa bahagia sekejab merasukku atau aku terlalu pura-pura percaya dengan ucapannya. Jelas aku tidak percaya.“Jangan kau paksa aku untuk percaya, Mome-ku!”“Hanya kau yang pernah mencintaiku seperti ini!”“Tapi yang lain mencintaimu dengan cara lain, bukan?Yang mungkin lebih hebat dariku?”“Kau berbicara tentang harga sebuah cinta, Dere? Atau kau berusaha mendramatisir cemburumu?”Aku diam.“Katakan berapa harga cintamu?” dia mengejar pikiranku. Lalu menghilang di akhir tanya itu.“Aku hanya ingin kau berbagi semuanya. Kita tak perlu menjual milik kita!”Dia menggeleng perlahan dan matanya menerawang mencari jawab atau sedang menyulam emosiku kembali.“Aku percaya dengan benar keberadaaan kita di surga tapi saying sekali cinta yang kita rasa ini hanya di dunia ini! Aku berterima kasih pada Tuhan aku hidup di dunia dan mengenalmu, ah, jika saja neraka punya cianta, aku akan menemuimu di sana. Itu kalu kita bisa mengajukan petisi pada Tuhan kita. Memang di surga kita tidak bisa lagi bercinta seperti ini tapi setidaknya aku masih bisa punya tempat untuk mengenangmu dengan baik!”“Aku tahu benar aku mencintaimu, Mome! Tapi… aku sungguh tidak tahu apakah besok kau masih rela kucinta!”Dia tertunduk, yang jelas bukan karena malu atau sedih.Mome tidak pernah menangis untuk sebuah argument percintaan seperti ini.“Ketika aku berkelana mencari arti cinta sebenarnya, Tuhan menunjukan aku jalannya. Dan ketika aku tiba di sebuah tujuan, kau yang ada di sana.. atau ini masih persimpangan, bukan tujuan?”Baru kali ini dia bertanya padaku, yah, perempuan ini baru saja tiba pada kegundahan yang telah kupijak selama tujuh ribu dua ratus detik. Tak bisa kujawab kegundahannya, kami kini tiba di ruang yang kosong tak berjendela dan tak berudara. Dengan Tuhan yang berbeda, kami punya nafas Cinta yang sama. Apakah ini berarti bahwa Surga kami juga sama? Kami tidak punya jawabnya. Lalu, Apakah artinya emosi di titik akhir ini?  

Tak  tentu memburunya, kami bertarung dengan udara sore ini. Jika ada pertarungan yang lebih hebat dari Perang Pandawa dan Kurawa itu pasti pertarungan kami ini. Kami bertarung sejak sejam yang lalu dalam peluh, gairah yang membeludak, berujar dalam rintih, mengerang mencari sesuatu yang hilang, kami mencari jawab akan kegelisahan yang teramat menyiksa ini. Kami bergiat menemukannya dalam desahan hasrat yang berlomba meyakinkan keyakinan masing-masing. Walau aku masih belum bisa tahu apakah ada matahari yang bersinar esok hari, tapi ZALOME adalah matahariku pada detik ini. Telah kukunci tanya itu di pelupuk mata kala kutatap dia lekat. Kali ini dia menciumku, dari bibir yang kuerati ini menceritakan segala kisah yang bergejolak di dalam hatinya. Aku tahu, Mome, betapa kau sangat mencintaiku dan apakah Tuhanmu tahu bahwa ciumanmuu lebih dahsyat dari badai yang Dia tenangkan? Tahukah Tuhanmu bahwa hatimu lebih tulus dari mukjizat yang dilakukan para pendeta yang mengaku utusanNya? Aku tahu ini, bukan dengan koitus yang kuanggap ritus tersuci, ketika rongga vaginanya menjepit jantungku, atau ketika lidahnya menelan jiwaku, bukan, tapi dari matahari dan bulan yang bersinar dengan cemerlang bahkan ketika kami tidak berbicara tentang Eros, tapi ketika kita berbicara arti tentang setiap nafas yang kita pinjam dari surga untuk bertahan bercinta persis seperti ini.“Ceritakan aku tentang Tuhanmu!” pintaku suatu kali.Dia berhenti menulis puisi, puisi itu selalu untukku, menoleh ke arah mataku dan menjawab dengan polos,“Dia jauh lebih seksi dari mu, Dere!” lalu tersenyum, dia menggoda gelak tawaku. Dan merasalah aku kalah.“Bersama denganmu seperti berada di Surga kedua, namun kau bukan Tuhanku di sini!”“Lalu aku apa?” aku memburu pikiranny, untuk menyenangkan diriku.“Kau selalu menjadi Dewa bagiku!” aku belum terlalu senang, tapi cukup sumringah mendengar jawabannya.“Lalu?Apakah Tuhanmu juga seksi,Dere?” kali ini dia bertanya dengan sedikit menggoda, dia menggoda imanku.“Kau jelas lebih seksi dariNya tapi dia jauh lebih tenang ketika aku bercinta denganNya”Dia tertawa. Lepas. Apakah dia bahagia ketika aku boleh terbebas dari pengaruh emosi terhadapnya dengan mengalahkannya dengan perbandingan tak setara Tuhanku? Apakah artinya emosi di titik akhir ini?  

Sore ini adalah mungkin yang terakhir kami bertemu dan berkoitus. Aku dan Zalome, perempuanku itu, tidak pernah membayangkan bahwa hari esok adalah masih milik kami, jika saja Tuhan kami bisa bekerjasama dan menjodohkan kami. Mome pernah mengisahkan padaku kisah salah seorang raja dalam kisa-kisah kepercayaannya, yang jatuh cinta dengan seorang perempuan. Mereka jatuh cinta tapi tak bisa bersama, wanita itu memilih pergi untuk memerintah kerajaannya sendiri karena dia adalah seorang ratu yang punya tugas dan kehidupan sendiri, sedangkan raja itu memiliki kehidupan dan kerajaannya sendiri. Mereka berpisah di satu saat ketika cinta mereka telah benar-benar matang tapi mereka enggan memakannya. Perempuan itu memilih kembali ke negerinya dan bukan hanya membawa kisah asmaranya tapi juga membungkus kisah kesan-kesan tentang Tuhan yang dimiliki oleh sang Raja. Sedangkan raja itu boleh menunjukan bagaimana cara Tuhannya mencintai manusia lain yang tidak menyembahnya dengan cinta yang dia punya bahkan kala Eros tidak sedang beremosi dengan mereka.“Kisah kita sama dengan ceritamu, Mome!” selaku kala dia lengah berkisah.“Mungkin!” tandasnya singkat, aku sedikit terperangah mendapati ketidakpastiannya kali ini. Perempuan ini hampir semuanya pasti, tapi ketika mengumpamakan dirinya dengan kisah percintaan salah seorang Nabinya, dia ragu. Atau dia hanya tidak ingin membuatku ragu dengan kisah percintaan kami. Yah, bukankah jika dia mengiyakan kemiripan kisah itu dengan percintaan kami, adalah sama juga meyakinkan aku bahwa kami harus berpisah. Dan, dengan jawaban ragu itu, apakah ada harapan yang harus aku bangun dengan mimpi ini?“Mome! Bagaiman jika suatu hari nanti aku bertemu dengan Tuhanmu?”“Jangan katakan padanya bahwa kita pernah bercinta, Dere!”“Kau sangat menghormatiNya?”“Aku belajar banyak darimu soal itu, Dere! Aku sangat menghargai mengapa Sidharta memilih bersendirian dan mematahkan hati putrid-putri di Istana yang selalu membayangkan akan kawin dengannya ketika mereka dewasa!”Dia memuja Tuhanku juga. Dan akupun mengenal Tuhanya dari dia. Mome memancarkan sesuatu yang begitu jernih kulihat dari Tuhannya.Kadang-kadang kupikir bahwa kita adalah nabi-nabi yang dibiarkan Tuhan hidup tanpa wahyu, tapi kita punya akal budi dan naluri seutuhnya yang dapat menyampaikan pesan surga. Apakah artinya emosi di titik akhir ini?  

Pernah suatu ketika usai menciumku, dia tergelak, aku termakan kebingungan sesaat,“Pernahkah kau pikirkan, harus pada siapa kita berterima kasih, pernahkah kau berterima kasih pada Tuhanmu karena mempertemukan aku denganmu?”Aku menyentuh pipi pualam itu dengan ujung-ujung jari yang telah kurekatkan mata hatiku.“Aku yang seharusnya berterima kasih pada Tuhanmu karena telah mengijinkanmu bercinta dengan anak gadisnya. Mome kekasihku, ketika kau menyebut aku dewamu, aku sangat tahu Tuhanmu pasti cemburu, bukankah Tuhanmu tidak mengijinkanmi mendewakan yang lain?”“Yah, kau benar, ternyata kau tahu benar Tuhanku Egois dalam hal ini, tapi kau lebih egois darinya untuk hal ini! Kau tidak mengijinkan aku mendewakanmu sedangkan kau menganggapku lebih terang dari sinar Tuhanmu, harusnya kau adalah Sidharta yang menyinariku saat aku dalam kegelapan seperti ini!”Dia tahu betul tentang aku dan Tuhanku, sebaliknya aku. Tapi kami tidak tahu dengan pembenaran apapun perihal percintaan kami besok. Apakah artinya emosi di titik akhir ini?  

Kami yang berbeda secara keyakinan, sore itu, usai sembahyang pada Tuhan, kami memutuskan dibawa lari oleh hasrat Eros. Sementara kutanggalkan kutang-kutang putihnya, aku minta maaf pada Tuhannya, tanpa kutahu bahwa aku akan dihukum setelah ini. Tuhan, jika Kau yang merajut kutangnya, biarkan aku kau jadikan kutang itu di kehidupan kedua, karena dosa ini. Aku telah melihat sebuah dunia yang lain, yang tidak pernah kulihat sebelumnnya. Dan bukan hanya kesenangan, aku telah melihat kesusahan iktu. Jika saja Kau adalah Tuhan yang sama yang dipercayai Mome-ku, tapi isi sembahyangku lebih banyak dijawab oleh arwah para nenek moyang yang membuat kuingin tahu bagaimana rupa perhelatan serta bagaimana penyerahan mereka ketika berhasrat mengejar orgasme. Saat ini, dapat kurasakan isi doa yang terlihat dari mata yang setengah tertutup itu, kecantikan yang lahir dari hati itu adalah abadi di hatiku. Perempuan yang berada dalam pelukanku ini telah memompa empat bilik jantungku dengan darah, membebaskan seluruh adrenalin dan merampok semua hormone penylethylamine-ku. Perempuan yang memeluk Tuhannya saat dia mengerati tubuhku ini, sangat tahu apa yang dilakukannya dan yang memahami bahwa ada perbedaan yang dibuat Tuhan untuk menyatukan manusia.“Jika aku memilih hidup denganmu, harus ada di antara kita uang mengkhianti Tuhannya, aku tak ingin kita berbeda dalam hal apapun. Aku egois, Dere. Tapi jika harus berpisah sorga denganmu, aku tak mampu menyirami rasa yang aku punya. Kau harus mengerti ini, Ketika kita meilih harus bersama dengan jalan yang tak sama, hanya raga yang bahagia sedangkan jiwa kita bercerai, seperti berpelukan di atas jurang sempit tapi sangat dalam. Kalau toh kita berkeras berpelukan dan bercinta di sana, akan ada satu dari kita yang akan masuk ke jurang itu, atau tidak harus melangkah menuju sisi yang  sama. Aku tak ingin kau meninggalkan Tuhanmu hanya karena emosi sementara yang kita punya ini. Begitu juga aku, Dere! Bercinta denganmu adalah hal yang terindah yang pernah aku rajut dalam seluruh jiwaku, tapi aku tak bisa memaafkan diriku jika melupakan cinta Tuhanku.”Alibi yang paling kuat ketika dia menolak percintaan kami hari ini. Aku, terdiam dan jelas terhenyak dari mimpi yang teramat sangat kuagungkan. Aku kemudian mengangguk tanda mengerti sekaligus tanda memahami bahwa kami harus berhenti bercinta.“Aku telah merencanakan hal-hal kecil yang menurutku bermakna tapi ternyata tidak perlu dalam hubungan kita!”Aku lemas ketika harus kembali ke tempat di mana aku berada. Tempat yang kudiami tanpa Mome, yang tidak tertata apik seperti kamar ini, dengan dua jendela besar yang menganga ke Matahari terbit, dia buah kursi kayu duduk berdekatan di pinggir daun jendela, lampu kertas yang mati tepat di sudut ranjang, dekorasi sederhana nuansa coklat, sangat alami. Namun ruangan ini lebih agak gelap sore ini karena Matahari telah meninggalkan dua jendela yang selalu menanti sinarnya di pagi hari. Meski begitu, semua keraguan yang kami punya kini lebih jelas dan terang saat ini apakah karena kami telah merasa puas ketika berkisah tentang dua Tuhan yang kami punya, atau kami telah bercerita tentang dua jiwa yang lahir dari doa yang berbeda yang seketika bertobat dalam senggama?“Aku ingin meyakinkan diriku bahwa kau juga adalah ciptaan Tuhanku dan aku berdoa padaNya untuk meminta dirimu darNya, tapi sangat kontras jika kaupun yakin bahwa aku adalah ciptaan Tuhanmu dan kau harus tawar-menawar dengan Dia untuk meminta diriku. Jika Mereka sama, kupikir kitapun pasti bisa bersama, namun kau pernah bilang bahwa Tuhan itu egois. Dia mengajarkan cinta hanya untuk sorga saja, tidak ada yang tersisa di neraka”.Aku menyerah dengan mengungkapkan kenyataan ini. Kami masih berpelukan, untuk pernyataan-pernyataan yang membelah kami ini, kami tak merasa kalau emosi kami berhenti. Logika memang selalu berjalan sendiri dengan emosi. Kami membiarkan Sore ini mengungkung kami, karena sebentar lagi malam akan datang. Kami baru saja bercinta sejak tadi siang dan aku tahu, hari ini aka membawa lari jiwa kami jauh walau rasa ini masih ingin berpelukan selamanya. Bisa saja kami memilih tetap hidup entah akan berdosa setiap saat atau nanti bertobat sampai kiamat atau kembali ke masa sebelum kami bertemu seperti ini kala kami telah memikirkan Jiwa dan Sorga. Aku ingin tetap memiliki hidup dalam ribuan maklumat kebajikan agar aku bisa menjumpainya dalam wujud raga yang berakal dan dapat beremosi seperti saat ini. Dan dia masih meminta Tuhannya memanggilku masuk dalam takdirnya, aku tahu itu, Cinta bisa mati tapi jiwa kami harus hidup. Kami berterima kasih kepada Tuhan masing-masing karena kami boleh bertemu. Usai sembahyang, kami berkoitus di suatu sore milik kami, sebab esoknua bukan milik kami.“Kami pernah lari dari Eden, jika kami Adam dan Hawa.Dan kau tahu apa yang mereka lakukan ketika bersembunyi di balik semak, dengan penuh ketakutan dan kesadaran akan ketelanjangan?…Mereka bercinta! Itu pasti, Dere!” Mome berkisah terakhir tentang pasangan pertama di dunia ciptaan Tuhannya.“Kau tahu, mengapa Sidharta memilih bertapa dan bersendirian? Mungkin dia lebih senang bercengkerama dengan Dewi Kwan In daripada bergaul dengan putri-putri istana.” Kisahku yang dibalasnya dengan segaris oval senyum. Kita bisa saja menerjemahkan salah tentang Kitab dan keyakinan kita, tapi kita tidak bisa salah menerjemahkan arti emosi yang sering kita sebut dengan CINTA karena di sana bisa ada Sorga dan juga Neraka, hanya bila kita salah menerjemahkannya. Apakah artinya emosi di titik akhir ini?

Kami berkemas, memakai kembali kutang, celana yang sudah kita lepas. Lalu kembali ke rumah kami masing-masing. Wanginya tetap tinggal di seluruh tubuhku dan tanda dekapanku tetap membayanginya hingga dia tiba di sorga. Entah dosa atau apa yang baru saja kami buat yang jelas kami telah memutuskan kembali ke jalan kami masing-masing, di sore itu sebelum malam tiba.      

 ****************************    

Catatan Penulis :Aku DERE dan Zalome atau Mome, yang pernah jadi kekasihku. Apabila jalan kami sedikit maju, seumpama Alfabet, MOME  akan menjadi NONE, sedangkan aku DERE. Ketika kami memilih jalan kami bersama. Kami tak akan pernah bertemu siapa-siapa di sana “NONE DER!”  

Manado, 2005

Y’oph—copyright@2005

The Dream Of May

January 25, 2008

Tidak ada manusia manapun yang bisa menguak takdir apa yang hendak menantinya di beberapa detik ke depan dari hidupnya. Kita hanya sedang menghitung jarum jam yang sibuk dan acuh dengan kita yang selalu mengejarnya, sedang tanpa sadar takdir berulang terjadi dan kita telah sampai di bentuk kehidupan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Betapa kita tertawa geli melihat bayangan masa lalu yang terjadi seperti baru kemarin kita masih memakai kolor dan berlarian di halaman rumah ketika masih lima tahun dan sekarang jika kita melakukannya kita dianggap sudah tidak waras. Tapi, Waras atau tidak sekarang saya sedang tidak memakai apa-apa hanya kolor dan terbaring pasrah di atas ranjang yang selalu menawarkan kehangatan. Aku menikmatinya dan aku jatuh cinta padanya. Bukan ranjang ini dan bukan pada ketelanjangan ini tapi pada sosok yang kerap menelanjangi pikiranku .Gamblang. Aku suka!               

Kuangkat tubuh berbobot empat puluh lima kilogram ini dari atas ranjang kesayangan dengan bertumpuh pada kedua tungkai kaki dan otot-otot yang menguatkan rangka ini untuk berdiri, otakku memerintahkan anggota tubuhku yang lain untuk menuju jendela yang sengaja kututup dengan gorden hitam. Aku suka hitam. Misterius.kutarik pelan-pelan tepian kain itu ke arah kanan dan coba melihat jauh keluar. Pertama ke langit, mencari-cari apakah ada awan yang menggelantung di sana.. kemudian ke bawah sampai ke jalan raya yang penuh dengan hilir mudik kendaraan. Bosan. Sangat Membosankan. Tidak ada yang dapat kukerjakan hari ini.                 Tiba-tiba terlintas dalam otak ini beberapa angka. Yah angka-angka itu yang jika dijumlahkan bisa menyaingi jumlah berapa kali aku memencetnya di sini. Telepon antik yang sengaja kuletakan di sudut ruangan. Aku ingin berbicara dengannya sekarang untuk bilang sebuah rasa ini, rasa yang sebenarnya semu.               

 “…… hello..”               

“……yah.. fine ..!” itu saja lalu kututup setelah mengatakan ‘bye’Yah, Tuhan aku lupa sesuatu, aku lupa mengatakan bahwa aku rindu. Nomor yang kuawali dengan tanda plus dan 65. Aku menelponnya, seorang laki-laki yang pertama kutemui lima bulan yang lalu dan sejak saat itu hidupku berubah.                 

Terminal Ferry Batam Center terlihat sangat sibuk penuh dengan manusia, ada beberapa penumpang yang sedang antri di ruangan imigrasi, dan ada beberapa orang yang antri di loket tiket dengan ransel-ransel mini di tangan mereka. Ada beberapa pasangan yang sedang melepas rindu dan langsung menuju ke area parkir, sedang di lantai dua ada yang sedang duduk dengan segelas kopi dan juice di beberapa kafe yang baru saja buka pagi ini. Ekor mataku menangkap sesosok bayangan orang yang akrab dengan organ-organku. Dia yang pernah kutemui 5 atau 10 tahun yang lalu. Alex. Alex Tan lengkapnya. Semoga dia tidak melihatku, kusembunyikan wajahku dengan menatap lurus ke bawah. Sambil menggigit lidahku dan mengutuk diriku. Kenapa aku mau di ajak kesini, kenapa aku mau menuruti kata setan-setan itu untuk datang berdiri sendiri di teras pelabuhan ferry ini. Oh, semoga dia tidak melihat ku. Waktu telah banyak merubah aku, dulunya aku terlalu pendiam tapi sekarang aku telah banyak berubah. Hanya ada satu yang tidak pernah berubah, rasa itu. Padahal kupikir waktu telah menyulamnya dengan sempurna dengan kejadian setiap detik yang berbeda-beda sampai aku bingung dan lupa bagaimana mengurutkan semuanya, meski berkali-kali kucoba urutkan tapi tetap gagal. Malah yang paling buruk adalah hanya membuat saya pusing serta sangat lelah untuk memikirkan semuanya.               

Hey, aku terlalu lama terlena dan melamun, sosok itu. Alex Tan sudah tidak ada. Ku coba mengejarnya ke semua ruangan di pelabuhan itu tapi gagal yang ada malah tatapan aneh dengan kerutan-kerutan yang menjijikan dari wajah orang-orang di pelabuhan itu. Mereka menatapku dengan aneh. Sudah gilakah orang-orang ini? Aku tak peduli. Sampe hari mulai gelap saya masih mencari sosok Alex. Sampai saya dijemput seorang yang selalu menjagaku.               

Hampir setiap hari aku mengunjugi pelabuhan itu hanya untuk menunggu Alex Tan. Seperti  hari ini saya sudah melihatnya tapi gara-gara kebodohanku sendiri, aku kehilangan Alex. Apa otakku sudah bekerja sendiri dan tidak mau lagi mendengarkan menjalangkan perintah-perintahnya, atau saraf-sarafku sudah parah kerusakannya. Seperti biasanya saya akan dijemput orang itu dan membawaku pulang serta menidurkan aku. Sering kuceritakan padanya tentang Alex, kisah cintaku yang sangat mengharukan sampai dia menitikkan airmata. Alex yang menemukan aku yang telah kehilangan harapan dan yang bingung dengan hidupku sendiri. Saat itu saya berumur 15 tahun, masih bodoh tak lulus Sekolah Dasar dari sebuah desa di propinsi bagian Utara Indonesia nasib membawaku masuk dalam lingkaran trafficking yang paling mengerikan di Batam. Tapi Tuhan masih baik dengan merancangkan takdir baik itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa, penuh ketakutan, aku berhasil dijual dengan paksa oleh sebuah rumah bordir, tapi inilah keajaiban yang sampai saat ini kucari kembali, Alex Tan. Malaikat penolong yang malam itu datang hendak membeli tubuhku yang masih berbau susu. Dulunya aku tidak percaya. Malaikat itu ada. Tapi laki-laki ini mampu mengubah pikiranku bahwa ada banyak Malaikat yang dikirim Tuhan di bumi ini. Alex membeliku untuk membebaskan hidupku. Dia membeliku dengan harga yang mahal dari Germo pemilik rumah border itu dan dia memberiku tempat tinggal dan segala-galanya dengan tidak pernah menukarnya dengan tubuhku.  Dia memberikan aku hidup. Dan Aku mencintainya dan benar dia membiarkan aku masih perawan.               

 Setiap Minggu dia mengunjungiku, dia kerja di Singapura, kota besar itu. Tetapi di suatu hari, hari Minggu di bulan Mei, dia mendekapku erat-erat dan dari gelagatnya dia seperti mau mengucapkan selamat tinggal. Dan benar pikiranku membenarkan nasibku, dia tidak pernah kembali. Mungkinkah dia sudah menikah dengan orang lain, tidak ada kabar. Dunia seperti menelannya. Mungkin selama ini dia hanya iba padaku dan bukan cinta. Aku menangis, Aku berteriak dan tidak ada yang dengar, dengan tujuan Alex bisa dengar tapi nihil tidak ada gunanya, suara hatiku malah mencaci maki aku karena tindakan-tindakan bodoh itu. Apakah dia sudah mati? Tidak Aku tak bisa hidup tanpa dia, aku takut kalau Germo itu datang dan memaksaku kembali karena pemilikku tidak ada lagi. Aku tidak bisa hidup dengan ketakutan ini. Sebab jantung ini hanya berdetak jika Alex ada. Aku tidak bisa berpikir apa-apa. Lalu aku memutuskan mengakhiri hidupku. Yah, Jalan Raya di bawah, Mobil itu. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.Aku merasakan Alex dihatiku. Saat aku terbangun dari tidur itu aku masih menunggu dan mencari Alex. Yah… suara-suara itu selalu memanggil nama Alex. Sebab ternyata saya masih hidup, Tuhan belum mau menerima hidupku berarti Alex masih ada dunia ini. Kecuali kalau di sudah mati, berarti saya harus pergi ke Surga dengan Alex.  Pelabuhan, Rumahku yaitu Rumah Alex. Dan Alex,  Itulah takdirku saat ini.               

 Lima tahun atau sepuluh tahun telah berlalu, sebenarnya otakku tidak bisa lagi mengingat dengan jelas sejak hari itu. Yang selalu membantuku adalah laki-laki ini yang kemarin membantuku pulang ke rumah dari pelabuhan Batam Center, dan lain-lainnya sampai mengingatkan aku soal tanggal dan hari. Hal yang paling lucu adalah pertama kali bertemu dengan dia, dia bilang namanya Alex. Aku tertawa sampai dua hari. Banyak orang yang ingin aku melupakan Alexku dengan mengaku dirinya adalah Alex. Alex belum pulang. Lagi pula Dia itu gagah, tampan, putih, China, harum, umurnya juga masih 35 tahun.                

 Di suatu sore di bulan Mei, Tiba-Tiba aku lelah menunggunya. Sudah cukup. Alex tidak mau tahu dengan kabarku yang terakhir, aku sudah dewasa dan matang, seksi, tubuhku, suaraku, mataku. Tapi terlalu lama aku menunggunya. Aku lelah. Nasibku harus seperti itu. Aku hanya ingin tidur Lama. Kalau dulu pernah Tuhan tidak membuka Surga buatku. Sekarang aku tidak peduli, tapi aku mau mencari Alex yang mungkin sekarang sudah di Surga. Aku lelah juga berpikir. Aku hanya ingin tidur. Tubuh dengan bobot yang tak cukup ditahan otot-ototku sendiri, jatuh sempoyongan. Semua obat penenangku sudah kutelan serta kuminum sedikit cairan serangga itu. Takdir itu tidak seindah yang kita bayangkan sebelumnya. Kita yang membuatnya indah atau sedih bukan? Dan biarkan aku yang mengerjakannya sendiri saat ini. Walaupun sangat tidak sempurna. Kepalaku menghantam pinggiran ranjang yang terbuat dari ukiran kayu itu dan sepertinya cairan kental kurasakan mulai mengalir ke telingaku, pandanganku sudah mulai kabur. Tapi entah kenapa otakku tiba-tiba merasa ringan. Dan… mataku terbelalak ingin keluar dan hidup, Alex Tan ada di depanku, Berteriak, Memelukku… suaranya tidak bisa kudengar, Alex ada di depanku. Aku bahagia….bibirku dengan lelah kupaksakan mengeluarkan perasaan senangku melawan busa-busa yang mulai keluar..tubuhku mulai bergetar dan kejang-kejang. tapi mulutku masih berusaha membentuk beberapa huruf .. A..L..E..X…..! Dia memang terlihat sudah agak tua, dia menangis…….! Ingin kutanyakan.. darimana saja dia selama ini? Mengapa dia pergi meninggalkan aku. Aku ingin hidup mengganti cintanya, mengungkapkan semua rasa cinta, tapi semua gelap. Tetapi sebelum gelap, masih sempat kudengar bisikannya, “ I’ve been right here besides you for years, loving you with all my heart, but you just never wake up from your long dreams, May!”         

Batam, in October of 2007

Y-OPH—–CopyRight@ October 2007

Sebuah Memo Buat Gaia

January 25, 2008

 Penyair itu Pelacur. Gaia namanya, melacurkan dirinya pada kata-kata dan mimpi yang selalu menghantui ruang sadar dan alam bawah sadarnya. Dia harus menukar kata-kata dengan inspirasi yang selalu merobek-robek kelaminnya. Mahluk cantik itu selalu membayar semua kisah hidup dengan gejolak rasa yang selalu menelanjanginya. Dan setelah lama bernegosiasi dengan hati biasanya Gaia memilih untuk segera menoreh seribu makna hidup dalam aksara-aksara yang kadang kasar didengar dan terkadang terlalu lembut bagi pria-pria yang mengaku pria sejati.Gaia seperti biasa dengan lenggang slengeannya, terkadang kelaki-lakian, menyerempet di antara desak-desakan di pintu keluar sebuah teater bioskop. Ekor matanya sempat menangkap sesosok bayangan pria macho yang cukup fashionable. Gaia menarik kedua pipinya dan melukis senyum mungil di wajah mulus itu. Lelaki itu tak mau kalah. Dia sumringah. Kertas-kertas yang bertumpuk di pelukan Gaia tiba-tiba berserakan di lantai. Laki- laki itu tertawa. Setan, guman Gaia dengan ekspresi wajah yang belum berubah. Laki-laki itu pergi. Biar saja, laki-laki itu Banci! Batin Gaia mencoba merasionalisasikan kenyataan. “Ini harusnya sudah kujilid dengan rapih sebelum ke sini” Kertas-kertas itu diserahkan kepada salah seorang perempuan yang berada di dalam ruangan yang adalah bagian kecil dari sebuah gedung Penerbitan buku. Gaia adalah seorang penulis dan karya-karyanya baru lolos audisi yang diadakan oleh Penerbit ini. “ Tulisan itu adalah ragaku, karena diriku ini tinggal berupa roh….” cekikikan kemudian wajahnya tiba-tiba dibuat serius “ roh halus…!” tandasnya pelan dengan kelopak mata mengecil dan tajam ke arah dinding kosong di depannya. Sedang yang mendengarnya telah tersenyum lebar. Karya-karyanya cukup diacungi jempol kata pembacanya cukup berisi. Ditariknya tas bututnya dan meninggalkan ruangan itu. Menuju ke rumah kontrakan, melewati gang kecil dan mendapati sebuah rumah kecil dengan arsitektur yang tidak menarik sama sekali, Itulah wajah kehidupan kita kata Gaia, bentuknya kurang bagus tapi setidaknya ada yang hidup di dalamnya setidaknya orang-orang tidak akan menyebut rumah itu rumah hantu. Dan kita bukan hantu. Gaia tersenyum melihat seorang Ibu di warung depan yang sedang melotot ke arahnya. Tatapan orang-orang ini memang kurang mengenakan. Mereka seperti sedang menyaksikan Adolf Hitler hidup lagi dan sedang berjalan di depan mereka atau kah Madona yang menggelar jumpa fans di gang ini? Tidak perlu diartikan karena Gaia mengerti dengan semua gejala antipati yang timbul di masyarakat akhir-akhir ini. Manusia sudah sombong ketika sudah mengerti soal telepon genggam padahal sekolahnya juga banyak yang gagal karena pernikahan dini dan sebagainya. Dosa orang pun dengan pintarnya diukur-ukur siapa paling berdosa dan siapa yang dosanya hanya sedikit. Siapa saja yang bisa menginjakan kaki di surga dan siapa yang akan ke neraka. Manusia sudah lebih pintar dari Tuhan zaman sekarang. Dan Gaia itu Penulis kadang juga disebut Penyair di sini.“ Saya menulis apa yang saya alami yang saya sebut dengan hormat ‘petualangan’ entah petualangan cinta, sex, atau penemuan jati diri” Dan banyak yang tidak bisa terima cara Gaia. Dia menulis semua kisah-kisah dari gejolak-gejolak aneh yang berontak dalam dadanya. Seperti mau melahirkan katanya. Siang hari dia menulis, dan malamnya bertemu dengan para lelaki hidung belang yang tidak tahu malu. Mereka selalu bercinta dengan Gaia. Seru, kata Gaia jika dia pulang membawa ide di kepalanya. “ Aku hanya belum bunting manusia saja,” dia tertawa renyah. Kemudian, Cerita kencan-kencan itu menginspirasikan kisah yang teramat panjang, “ Saya mengangkat semua dosa itu keluar di atas kertas ini “ tandasnya suatu ketika. Kemudian tertawa “ dosa saya”. Gaia mengaku jatuh cinta pada Tuhan tetapi mengabdi pada Setan. Dia tidak rajin sembayang kecuali kalo demamnya mulai meninggi. Selebihnya adalah makian. Gaia pengagum Cinta tapi Cinta tidak pernah memihak padanya. Percintaan yang tidak berhasil itu lumrah, hanya karena cinta itu tidak bisa ditukar dengan mata uang manapun. Gaia memilih menjual cintanya, dengan bonus bercinta lalu dia bisa hidup seperti layaknya mamalia lainnya. Tapi jangan tanya kenapa Gaia menulis jawabannya adalah supaya dia tidak gila saja. Selain itu, Gaia di sini adalah Pelacur.Yah, benar begitu. Dia menikmati semua segi kehidupannya.Dia ingin merasakan hidup itu, Ketika orang bercinta atas nama cinta dan lupa kalau itu manifestasi dosa sebelum menikah, Gaia berbeda dia lebih baik bercinta demi uang. Dalam hal sex pra nikah semua itu dosa. Gaia tidak mau ambil peduli soal itu. Dia hanya ingin hidup sebisanya dan bahagia. Kebahagian itu bukan dari banyak materi atau cinta dan sebagainya tetapi di saat kita bisa tersenyum ketika kita kalah. Kalah dengan mimpi untuk kaya, atau kalah dari mimpi dicintai selamanya. Kalah dengan ego yang harus kita redam kita melihat mata orang-orang sok suci di sekitar kita miris melihat kita.Malam ini, Gaia mabuk dan tertidur pulas. Padahal tadi siang segerombolan anak-anak muda yang mengaku komunitas penyair membawakan sebuah memo kepadanya. Dia diundang untuk menerima penghargaan sastra dari salah LSM di bawah rekomendasi Unicef. Hebat sekali. Gaia memenangkan sebuah pertarungan mimpi. Walau begitu, aku kenal betul dengan Gaia. Dia adalah Abang laki-lakiku yang sangat menginspirasi hidupku. Gaia, Dia juga Banci.   

Batam, 14 Maret 2007

Y’oph–copyright@2007

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.