Sebuah Memo Buat Gaia
January 25, 2008
Penyair itu Pelacur. Gaia namanya, melacurkan dirinya pada kata-kata dan mimpi yang selalu menghantui ruang sadar dan alam bawah sadarnya. Dia harus menukar kata-kata dengan inspirasi yang selalu merobek-robek kelaminnya. Mahluk cantik itu selalu membayar semua kisah hidup dengan gejolak rasa yang selalu menelanjanginya. Dan setelah lama bernegosiasi dengan hati biasanya Gaia memilih untuk segera menoreh seribu makna hidup dalam aksara-aksara yang kadang kasar didengar dan terkadang terlalu lembut bagi pria-pria yang mengaku pria sejati.Gaia seperti biasa dengan lenggang slengeannya, terkadang kelaki-lakian, menyerempet di antara desak-desakan di pintu keluar sebuah teater bioskop. Ekor matanya sempat menangkap sesosok bayangan pria macho yang cukup fashionable. Gaia menarik kedua pipinya dan melukis senyum mungil di wajah mulus itu. Lelaki itu tak mau kalah. Dia sumringah. Kertas-kertas yang bertumpuk di pelukan Gaia tiba-tiba berserakan di lantai. Laki- laki itu tertawa. Setan, guman Gaia dengan ekspresi wajah yang belum berubah. Laki-laki itu pergi. Biar saja, laki-laki itu Banci! Batin Gaia mencoba merasionalisasikan kenyataan. “Ini harusnya sudah kujilid dengan rapih sebelum ke sini” Kertas-kertas itu diserahkan kepada salah seorang perempuan yang berada di dalam ruangan yang adalah bagian kecil dari sebuah gedung Penerbitan buku. Gaia adalah seorang penulis dan karya-karyanya baru lolos audisi yang diadakan oleh Penerbit ini. “ Tulisan itu adalah ragaku, karena diriku ini tinggal berupa roh….” cekikikan kemudian wajahnya tiba-tiba dibuat serius “ roh halus…!” tandasnya pelan dengan kelopak mata mengecil dan tajam ke arah dinding kosong di depannya. Sedang yang mendengarnya telah tersenyum lebar. Karya-karyanya cukup diacungi jempol kata pembacanya cukup berisi. Ditariknya tas bututnya dan meninggalkan ruangan itu. Menuju ke rumah kontrakan, melewati gang kecil dan mendapati sebuah rumah kecil dengan arsitektur yang tidak menarik sama sekali, Itulah wajah kehidupan kita kata Gaia, bentuknya kurang bagus tapi setidaknya ada yang hidup di dalamnya setidaknya orang-orang tidak akan menyebut rumah itu rumah hantu. Dan kita bukan hantu. Gaia tersenyum melihat seorang Ibu di warung depan yang sedang melotot ke arahnya. Tatapan orang-orang ini memang kurang mengenakan. Mereka seperti sedang menyaksikan Adolf Hitler hidup lagi dan sedang berjalan di depan mereka atau kah Madona yang menggelar jumpa fans di gang ini? Tidak perlu diartikan karena Gaia mengerti dengan semua gejala antipati yang timbul di masyarakat akhir-akhir ini. Manusia sudah sombong ketika sudah mengerti soal telepon genggam padahal sekolahnya juga banyak yang gagal karena pernikahan dini dan sebagainya. Dosa orang pun dengan pintarnya diukur-ukur siapa paling berdosa dan siapa yang dosanya hanya sedikit. Siapa saja yang bisa menginjakan kaki di surga dan siapa yang akan ke neraka. Manusia sudah lebih pintar dari Tuhan zaman sekarang. Dan Gaia itu Penulis kadang juga disebut Penyair di sini.“ Saya menulis apa yang saya alami yang saya sebut dengan hormat ‘petualangan’ entah petualangan cinta, sex, atau penemuan jati diri” Dan banyak yang tidak bisa terima cara Gaia. Dia menulis semua kisah-kisah dari gejolak-gejolak aneh yang berontak dalam dadanya. Seperti mau melahirkan katanya. Siang hari dia menulis, dan malamnya bertemu dengan para lelaki hidung belang yang tidak tahu malu. Mereka selalu bercinta dengan Gaia. Seru, kata Gaia jika dia pulang membawa ide di kepalanya. “ Aku hanya belum bunting manusia saja,” dia tertawa renyah. Kemudian, Cerita kencan-kencan itu menginspirasikan kisah yang teramat panjang, “ Saya mengangkat semua dosa itu keluar di atas kertas ini “ tandasnya suatu ketika. Kemudian tertawa “ dosa saya”. Gaia mengaku jatuh cinta pada Tuhan tetapi mengabdi pada Setan. Dia tidak rajin sembayang kecuali kalo demamnya mulai meninggi. Selebihnya adalah makian. Gaia pengagum Cinta tapi Cinta tidak pernah memihak padanya. Percintaan yang tidak berhasil itu lumrah, hanya karena cinta itu tidak bisa ditukar dengan mata uang manapun. Gaia memilih menjual cintanya, dengan bonus bercinta lalu dia bisa hidup seperti layaknya mamalia lainnya. Tapi jangan tanya kenapa Gaia menulis jawabannya adalah supaya dia tidak gila saja. Selain itu, Gaia di sini adalah Pelacur.Yah, benar begitu. Dia menikmati semua segi kehidupannya.Dia ingin merasakan hidup itu, Ketika orang bercinta atas nama cinta dan lupa kalau itu manifestasi dosa sebelum menikah, Gaia berbeda dia lebih baik bercinta demi uang. Dalam hal sex pra nikah semua itu dosa. Gaia tidak mau ambil peduli soal itu. Dia hanya ingin hidup sebisanya dan bahagia. Kebahagian itu bukan dari banyak materi atau cinta dan sebagainya tetapi di saat kita bisa tersenyum ketika kita kalah. Kalah dengan mimpi untuk kaya, atau kalah dari mimpi dicintai selamanya. Kalah dengan ego yang harus kita redam kita melihat mata orang-orang sok suci di sekitar kita miris melihat kita.Malam ini, Gaia mabuk dan tertidur pulas. Padahal tadi siang segerombolan anak-anak muda yang mengaku komunitas penyair membawakan sebuah memo kepadanya. Dia diundang untuk menerima penghargaan sastra dari salah LSM di bawah rekomendasi Unicef. Hebat sekali. Gaia memenangkan sebuah pertarungan mimpi. Walau begitu, aku kenal betul dengan Gaia. Dia adalah Abang laki-lakiku yang sangat menginspirasi hidupku. Gaia, Dia juga Banci.
Batam, 14 Maret 2007


