The Dream Of May
January 25, 2008
Tidak ada manusia manapun yang bisa menguak takdir apa yang hendak menantinya di beberapa detik ke depan dari hidupnya. Kita hanya sedang menghitung jarum jam yang sibuk dan acuh dengan kita yang selalu mengejarnya, sedang tanpa sadar takdir berulang terjadi dan kita telah sampai di bentuk kehidupan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Betapa kita tertawa geli melihat bayangan masa lalu yang terjadi seperti baru kemarin kita masih memakai kolor dan berlarian di halaman rumah ketika masih lima tahun dan sekarang jika kita melakukannya kita dianggap sudah tidak waras. Tapi, Waras atau tidak sekarang saya sedang tidak memakai apa-apa hanya kolor dan terbaring pasrah di atas ranjang yang selalu menawarkan kehangatan. Aku menikmatinya dan aku jatuh cinta padanya. Bukan ranjang ini dan bukan pada ketelanjangan ini tapi pada sosok yang kerap menelanjangi pikiranku .Gamblang. Aku suka!
Kuangkat tubuh berbobot empat puluh lima kilogram ini dari atas ranjang kesayangan dengan bertumpuh pada kedua tungkai kaki dan otot-otot yang menguatkan rangka ini untuk berdiri, otakku memerintahkan anggota tubuhku yang lain untuk menuju jendela yang sengaja kututup dengan gorden hitam. Aku suka hitam. Misterius.kutarik pelan-pelan tepian kain itu ke arah kanan dan coba melihat jauh keluar. Pertama ke langit, mencari-cari apakah ada awan yang menggelantung di sana.. kemudian ke bawah sampai ke jalan raya yang penuh dengan hilir mudik kendaraan. Bosan. Sangat Membosankan. Tidak ada yang dapat kukerjakan hari ini. Tiba-tiba terlintas dalam otak ini beberapa angka. Yah angka-angka itu yang jika dijumlahkan bisa menyaingi jumlah berapa kali aku memencetnya di sini. Telepon antik yang sengaja kuletakan di sudut ruangan. Aku ingin berbicara dengannya sekarang untuk bilang sebuah rasa ini, rasa yang sebenarnya semu.
“…… hello..”
“……yah.. fine ..!” itu saja lalu kututup setelah mengatakan ‘bye’Yah, Tuhan aku lupa sesuatu, aku lupa mengatakan bahwa aku rindu. Nomor yang kuawali dengan tanda plus dan 65. Aku menelponnya, seorang laki-laki yang pertama kutemui lima bulan yang lalu dan sejak saat itu hidupku berubah.
Terminal Ferry Batam Center terlihat sangat sibuk penuh dengan manusia, ada beberapa penumpang yang sedang antri di ruangan imigrasi, dan ada beberapa orang yang antri di loket tiket dengan ransel-ransel mini di tangan mereka. Ada beberapa pasangan yang sedang melepas rindu dan langsung menuju ke area parkir, sedang di lantai dua ada yang sedang duduk dengan segelas kopi dan juice di beberapa kafe yang baru saja buka pagi ini. Ekor mataku menangkap sesosok bayangan orang yang akrab dengan organ-organku. Dia yang pernah kutemui 5 atau 10 tahun yang lalu. Alex. Alex Tan lengkapnya. Semoga dia tidak melihatku, kusembunyikan wajahku dengan menatap lurus ke bawah. Sambil menggigit lidahku dan mengutuk diriku. Kenapa aku mau di ajak kesini, kenapa aku mau menuruti kata setan-setan itu untuk datang berdiri sendiri di teras pelabuhan ferry ini. Oh, semoga dia tidak melihat ku. Waktu telah banyak merubah aku, dulunya aku terlalu pendiam tapi sekarang aku telah banyak berubah. Hanya ada satu yang tidak pernah berubah, rasa itu. Padahal kupikir waktu telah menyulamnya dengan sempurna dengan kejadian setiap detik yang berbeda-beda sampai aku bingung dan lupa bagaimana mengurutkan semuanya, meski berkali-kali kucoba urutkan tapi tetap gagal. Malah yang paling buruk adalah hanya membuat saya pusing serta sangat lelah untuk memikirkan semuanya.
Hey, aku terlalu lama terlena dan melamun, sosok itu. Alex Tan sudah tidak ada. Ku coba mengejarnya ke semua ruangan di pelabuhan itu tapi gagal yang ada malah tatapan aneh dengan kerutan-kerutan yang menjijikan dari wajah orang-orang di pelabuhan itu. Mereka menatapku dengan aneh. Sudah gilakah orang-orang ini? Aku tak peduli. Sampe hari mulai gelap saya masih mencari sosok Alex. Sampai saya dijemput seorang yang selalu menjagaku.
Hampir setiap hari aku mengunjugi pelabuhan itu hanya untuk menunggu Alex Tan. Seperti hari ini saya sudah melihatnya tapi gara-gara kebodohanku sendiri, aku kehilangan Alex. Apa otakku sudah bekerja sendiri dan tidak mau lagi mendengarkan menjalangkan perintah-perintahnya, atau saraf-sarafku sudah parah kerusakannya. Seperti biasanya saya akan dijemput orang itu dan membawaku pulang serta menidurkan aku. Sering kuceritakan padanya tentang Alex, kisah cintaku yang sangat mengharukan sampai dia menitikkan airmata. Alex yang menemukan aku yang telah kehilangan harapan dan yang bingung dengan hidupku sendiri. Saat itu saya berumur 15 tahun, masih bodoh tak lulus Sekolah Dasar dari sebuah desa di propinsi bagian Utara Indonesia nasib membawaku masuk dalam lingkaran trafficking yang paling mengerikan di Batam. Tapi Tuhan masih baik dengan merancangkan takdir baik itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa, penuh ketakutan, aku berhasil dijual dengan paksa oleh sebuah rumah bordir, tapi inilah keajaiban yang sampai saat ini kucari kembali, Alex Tan. Malaikat penolong yang malam itu datang hendak membeli tubuhku yang masih berbau susu. Dulunya aku tidak percaya. Malaikat itu ada. Tapi laki-laki ini mampu mengubah pikiranku bahwa ada banyak Malaikat yang dikirim Tuhan di bumi ini. Alex membeliku untuk membebaskan hidupku. Dia membeliku dengan harga yang mahal dari Germo pemilik rumah border itu dan dia memberiku tempat tinggal dan segala-galanya dengan tidak pernah menukarnya dengan tubuhku. Dia memberikan aku hidup. Dan Aku mencintainya dan benar dia membiarkan aku masih perawan.
Setiap Minggu dia mengunjungiku, dia kerja di Singapura, kota besar itu. Tetapi di suatu hari, hari Minggu di bulan Mei, dia mendekapku erat-erat dan dari gelagatnya dia seperti mau mengucapkan selamat tinggal. Dan benar pikiranku membenarkan nasibku, dia tidak pernah kembali. Mungkinkah dia sudah menikah dengan orang lain, tidak ada kabar. Dunia seperti menelannya. Mungkin selama ini dia hanya iba padaku dan bukan cinta. Aku menangis, Aku berteriak dan tidak ada yang dengar, dengan tujuan Alex bisa dengar tapi nihil tidak ada gunanya, suara hatiku malah mencaci maki aku karena tindakan-tindakan bodoh itu. Apakah dia sudah mati? Tidak Aku tak bisa hidup tanpa dia, aku takut kalau Germo itu datang dan memaksaku kembali karena pemilikku tidak ada lagi. Aku tidak bisa hidup dengan ketakutan ini. Sebab jantung ini hanya berdetak jika Alex ada. Aku tidak bisa berpikir apa-apa. Lalu aku memutuskan mengakhiri hidupku. Yah, Jalan Raya di bawah, Mobil itu. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.Aku merasakan Alex dihatiku. Saat aku terbangun dari tidur itu aku masih menunggu dan mencari Alex. Yah… suara-suara itu selalu memanggil nama Alex. Sebab ternyata saya masih hidup, Tuhan belum mau menerima hidupku berarti Alex masih ada dunia ini. Kecuali kalau di sudah mati, berarti saya harus pergi ke Surga dengan Alex. Pelabuhan, Rumahku yaitu Rumah Alex. Dan Alex, Itulah takdirku saat ini.
Lima tahun atau sepuluh tahun telah berlalu, sebenarnya otakku tidak bisa lagi mengingat dengan jelas sejak hari itu. Yang selalu membantuku adalah laki-laki ini yang kemarin membantuku pulang ke rumah dari pelabuhan Batam Center, dan lain-lainnya sampai mengingatkan aku soal tanggal dan hari. Hal yang paling lucu adalah pertama kali bertemu dengan dia, dia bilang namanya Alex. Aku tertawa sampai dua hari. Banyak orang yang ingin aku melupakan Alexku dengan mengaku dirinya adalah Alex. Alex belum pulang. Lagi pula Dia itu gagah, tampan, putih, China, harum, umurnya juga masih 35 tahun.
Di suatu sore di bulan Mei, Tiba-Tiba aku lelah menunggunya. Sudah cukup. Alex tidak mau tahu dengan kabarku yang terakhir, aku sudah dewasa dan matang, seksi, tubuhku, suaraku, mataku. Tapi terlalu lama aku menunggunya. Aku lelah. Nasibku harus seperti itu. Aku hanya ingin tidur Lama. Kalau dulu pernah Tuhan tidak membuka Surga buatku. Sekarang aku tidak peduli, tapi aku mau mencari Alex yang mungkin sekarang sudah di Surga. Aku lelah juga berpikir. Aku hanya ingin tidur. Tubuh dengan bobot yang tak cukup ditahan otot-ototku sendiri, jatuh sempoyongan. Semua obat penenangku sudah kutelan serta kuminum sedikit cairan serangga itu. Takdir itu tidak seindah yang kita bayangkan sebelumnya. Kita yang membuatnya indah atau sedih bukan? Dan biarkan aku yang mengerjakannya sendiri saat ini. Walaupun sangat tidak sempurna. Kepalaku menghantam pinggiran ranjang yang terbuat dari ukiran kayu itu dan sepertinya cairan kental kurasakan mulai mengalir ke telingaku, pandanganku sudah mulai kabur. Tapi entah kenapa otakku tiba-tiba merasa ringan. Dan… mataku terbelalak ingin keluar dan hidup, Alex Tan ada di depanku, Berteriak, Memelukku… suaranya tidak bisa kudengar, Alex ada di depanku. Aku bahagia….bibirku dengan lelah kupaksakan mengeluarkan perasaan senangku melawan busa-busa yang mulai keluar..tubuhku mulai bergetar dan kejang-kejang. tapi mulutku masih berusaha membentuk beberapa huruf .. A..L..E..X…..! Dia memang terlihat sudah agak tua, dia menangis…….! Ingin kutanyakan.. darimana saja dia selama ini? Mengapa dia pergi meninggalkan aku. Aku ingin hidup mengganti cintanya, mengungkapkan semua rasa cinta, tapi semua gelap. Tetapi sebelum gelap, masih sempat kudengar bisikannya, “ I’ve been right here besides you for years, loving you with all my heart, but you just never wake up from your long dreams, May!”
Batam, in October of 2007
Y-OPH—–CopyRight@ October 2007


