SKETSA-SKETSA HITORI

June 4, 2008

Di Ruang tamu dengan sofa yang polos. Tidak banyak dekorasi yang menonjol dan TV di sudut sudah cukup meramaikan interior sederhana. Sketsa-sketsa yang menempel di dinding di atas kanvas putih tidak berbingkai tertera goresan-goresan yang indah. Gadis itu mencoba mengganti rautnya mukanya yang sudah sangat berat, Emosi yang tiba di titik paling tinggi berusaha dinetralkan kembali dengan memahat wajahnya sedemikan rupa dan dengan kekuatan gaib dia berhasil mengeluarkan beberapa kata,

“ tidak apa-apa, saya bisa menerimanya! Saya mengerti keadaan kita seperti apa ..”

desah panjangnya yang seharusnya keluar, ditahannya sedemikian rupa. Lelaki itu ,mencoba memeluknya tapi dia agak menarik tubuhnya pelan, dengan gerakan seperti seharusnya lelaki tahu bahwa perempuan itu tidak ingin menyentuhnya. Pandangan laki-laki itu masih tertuju padanya dengan setengah berlutut, “ maaf, Hitori…!”

Tak lama, laki-laki itu keluar perlahan setelah pamitnya tidak dibalas seperti biasa. Menutup pintu dan melangkah untuk terakhir kalinya di halaman yang tak luas itu. Setelah itu tak pernah tampak lagi sosoknya. Hanya Hitori yang terkadang merenung di depan pintunya ketika hendak menutup pintu rumahnya.

Baru lima bulan yang lalu, mereka menautkan semua emosi yang sering disebut cinta, bahkan bercinta di atas atap rumah saat semua tetangga telah terlelap tidur. Dan semua itu harus berakhir hanya karena keluarga laki-laki itu tidak menerima keadaan Hitori yang lumpuh.

Hitori mengatur kembali beberapa lukisan yang sudah dibungkusnya, ada sebuah galeri yang memesan sketsa-sketsanya. Hitori melukis sktesa. Yah, sejak kecil dia suka melukis di atas atap rumahnya. Masih terkesan sebuah kesedihan yang panjang dari setiap guratan kening yang melekat di wajah yang bersih dan putih itu. Rico memilih dijodohkan dengan pilihan orangtuanya. Tidak ada masalah buat Hitori, dia bisa hidup tanpa Rico. Tanpa cinta orang masih bisa hidup. Hidup masih bisa berjalan hanya saja kurang berwarna. Hanya seperti sketsa-sketsa itu. Toh, selama ini ibunya dan dia masih bisa hidup. Manusia pun harus hidup atas dirinya sendiri dan tidak harus selalu bergantung pada orang lain. Kalau tidak harus duduk di atas kursi roda, dia ingin terbang seperti burung. Tapi entah harus bersyukur atau harus mengeluh, hidup yang dia jalani sangat tidak berwarna. Dia sekarang sudah 20 tahun. Seharusnya menikmati masa mudanya dan bukan tergeletak tak berdaya di atas kursi roda. Dan memang, Hitori jarang tersenyum, tidak banyak orang yang mau berteman dengannya.

Sebulan yang lalu saya kembali ke rumah yang pernah saya diami selama bertahun-tahun. Liburan. Dan di depan rumah ini ada sebuah rumah tidak beratap genteng. Rumah Hitori. Di mana gadis mungil itu? Sesaat pikiranku bernostalgia akan pemandangan setiap sore yang selalu kusaksikan. Hitori melihat sunset, merasakan angin, mencoret-coret di atas lembaran-lembaran kertasnya. Sambil berehat ku ambil koran, meneguk kopi, dan mulai membaca Koran.

“ Gadis kecil itu kemana, Bu? Pasti sudah besar yah?”

Ada, tapi sudah lima tahun dia duduk di kursi roda, kecelakaan membuat dia lumpuh, kenapa?”

“O, tidak apa-apa, bu!”

Rasa ketertarikanku untuk melihat Hitori selalu menggodaku, hari ketiga aku memberanikan diri melihat anak itu. Dari cerita ibuku, ayahnya sudah pergi meningalkan mereka sejak dalam kandungan dan Ibunya yang menjadi single parent buat dia. Ayahnya seorang dokter Jepang tapi setelah dideportase kembali ke negaranya dan tak pernah kembali lagi. Sesaat kulihat ada seorang gadis sedang duduk di dalam ruang tamu, dari kaca jendela yang agak kabur itu bisa kulihat dia sedang membaca buku. Ketika aku sempat melewati rumahnya.

Dingin. Sore itu. Angin menghembuskan udara yang cukup menggigilkan permukaan kulit. Ada yang aneh dengan atmosfer sore ini dan mungkin energi aneh telah merasuk tubuhku sehingga harus merasakan kekakuan yang senada dengan ekpresi tubuh sesosok anak kecil berusia sekitar 10 tahun, Hitori namanya, yang masih tetap gigih berdiri dari atas atap rumahnya yang memang sengaja tidak diberi genteng itu, menerawang, pandangannya lurus, matanya yang kecil itu sepertinya memaksa seluruh syaraf-syarafnya untuk membuatnya lebih kecil. Seperti sedang menghitung berapa banyak awan yang sedang memeluk matahari yang mau tenggelam. Lantai beton di bagian atas rumah itu nampak kosong tidak ada apapun yang cukup menyenangkan mata yang tergeletak di sana selain sebuah bangku yang terbaut dari sebuah papan kayu yang selalu menjadi tempat duduk Hitori. Gadis kecil itu selalu duduk sendirian di bangku itu. Terkadang dia bermain sendiri atau terkadang dia terlihat sedang menulis di atas kertas putih. Sering ada kertas yang terbang dari atas bangunan rumahnya. Dan memang banyak sekali kertas yang sering berhamburan di atas atap itu. Kemudian tiba-tiba, seorang wanita sering memanggil namanya. Lalu tiba-tiba berlari menuruni tangga beton di bagian samping rumah itu dan mencari sumber suara itu. Tapi terkadang Hitori melangkah gontai sambil mencari ibunya. Dari jendela kamarku hampir setiap sore ekor mataku menangkap sosok mungil itu berdiam di atap rumahnya itu. Gadis kecil itu. 15 Tahun yang lalu.

Rumah itu memang sangat sepi dengan penghuninya yang juga diam, seperti angin yang berhembus sendiri-sendiri dan sepi. Pandangan saya selalu tertuju pada rumah sepi itu. Dan berharap bahwa setiap hari saya bisa melihat gadis itu. Hitori. Setelah diputuskan kekasihnya dia jarang terlihat di luar rumah.

Padahal aku ingin sekali menyapanya, ingin bercerita dengannya, kata tetangga dia jarang bicara dan sering menyanyi sendiri kalau dia sedang mandi. Aku ingin mengetahui keadaannya. Selama bertahun-tahun belum ada kesempatan untuk bertemu dengannya. Besok aku akan menemuinya, aku mungkin bisa menghiburnya karena dia masih sedih dengan pacarnya itu.

Malam ini sebelum mataku terpejam terdengar teriakan yang aneh. Lengkingan yang keras, Aku terhentak bangun.. dan itu suara Ibu Hitori. Semua tetangga terbangun dan segera berhamburan keluar dan menyerbu rumah Hitori. Hitori bunuh diri. Dia terbaring lemas dan kaku di dalam kamar sederhana disebelahnya terdapat botol obat tidur, sedangkan pada dindingnya penuh dengan tempelan sketsa-sketsa wajah yang sangat kukenal. Itu wajahku.

Februari 2008, Batam

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.