LEMONGRASS

November 18, 2011

 

Lemongrass itu Serai. Lemongrass aku suka kata itu. Sekarang nama itu adalah nama panggilan seorang teman yang belum lama akrab denganku, baru beberapa menit yang lalu ketika hujan mengunci langkahku di halte ini dan di sebelahku duduk perempuan berambut hitam, panjang, sepinggang, dan dikuncir, mengenakan kaos putih dan celana kain. Sederhana sekali. Setelah  ditepikan poninya ke arah telinga dan kemudian memberi aku senyum yang cukup hangat. Senyum yang tulus dari sebuah wajah polos  tanpa sedikitpun polesan kosmetik. Kesederhanaan perempuan yang berkulit sawo matang ini jelas nampak dari cara dia bertutur dan isi tuturannya.

“ Ser, ….Seraii ….!” Jawaban ini keluar setelah kutanya siapa namanya. Bunyi silabel-selabel itu terasa asing   mengiang di telingaku langsung dengan cepat gendang telingaku mengirim pesan itu ke otakku bahwa bunyi yang terdengar itu adalah memang benar. Serai.  “ Itu namaku asli yang diberi mama kandungku”. Sedikit gagap namun dia tak segan bercerita setelah aku menoleh perlahan ke perempuan yang duduk di sampingku ini, menjulurkan tangan dan menjabat tangannya dan refleks senyuman “ Aku Bawang putih!” Dia terkekeh lagi, Kami tertawa. “ Maaf aku bercanda  !”.

Kubiarkan pandangan mataku menikmati beningnya air hujan yang mengguyur jalan raya yang hanya sekitar satu meter dari tempat aku duduk. Perempuan ini masih tersenyum dengan cukup simpatik walaupun arah pandangannya tidak terlalu terfokus. Setelah itu tapi aku tahu dia mengarahkan senyum itu buatku karena tidak ada lagi manusia lain di sekitarku.

Senyum adalah sebuah kunci gerbang  sebuah ruang baru, ruang yang misterius, gelap atau ruang yang kosong sekalipun, ,meluluhkan ketakutan, meredakan kecemasan, menenangkan kegelisahan, memecah kesunyian dan menawarkan persahabatan.  Dan Senyum itu mujarab apabila dipahat sedemikian rupa di wajah-wajah manusia yang tulus dan tidak munafik. Dan senyum perempuan yang bernama Serai ini mampu  menyulap sebuah keheningan yang sedari tadi ditutupi oleh suarah gemuruh derasnya air hujan yang membasahi tanah sekitar lima menit yang lalu. Sehingga aku, Serai dan beberapa mahluk hidup lainnya bertengger di sandaran dan di kursi halte tua ini. Tidak hanya aku, Serai dan seorang laki-laki lain yang berdiam di sini, dari tadi aku melihat beberapa serangga sedang beterbangan. Kami hanya berdiam seakan-akan mengikuti irama hujan yang masih baru menyenandungkan bait-bait lagunya kemudian mungkin sebentar lagi akan memasuki refrain dan semoga saja bait terakhir hujan ini tidak terlalu panjang, agar aku, Serai dan beberapa orang yang menunggu di sini segera melanjutkan hidup kami.

“Aku tidak akan pernah suka menyebut diriku bunga. Aku tidak suka bunga” demikian kata Serai ketika pembicaraan kami dimulai.

“ Mengapa?”

“ Ah, bu..bunga itu kan cantik tapi menurut aku nih, ke..kecantikan hanyalah sebuah kebohongan! ….Karena hanya sementara”

Serai sedang menguraikan alibinya mengapa dia menyukai nama yang adalah pemberian mamanya walaupun dia diberikan nama bunga seperti  nama perempuan pada umumnya akan tetapi  dia merasa beruntung karena menurut dia mungkin di dunia ini hanya dia satu-satunya perempuan yang dinamakan Serai. Kata Ibunya, Serai itu berkhasiat bahkan lebih berkhasiat dari bunga, sedangkan bunga hanya cantik karena warna-warnanya yang indah akan tetapi peka dan lemah kelopak- kelopak itu,  tidak akan bertahan lama, mungkin hanya sehari , dua hari, atau hanya beberapa menit saja, diterpa angin dan dia akan layu.

“Aku tidak cantik sih dan aku bukan bunga” Usai menegaskan ini dia terkekeh. Aku membantahnya “ Tidak, Kamu cantik Serai, sangat cantik!” Dia tersenyum lagi dan mengibaskan tangannya tepat di depan wajahnya.

Perempuan itu hanya bersandar seadanya di sandaran halte ini.  Terpaku dan dia terdiam tak bersuara, tiba-tiba bibir tak berlipstik itu komat-kamit,  mata tertutup, Serai seperti sedang menyebut mantra atau sedang berdoa.  “Apa yang sedang kau lakukan, Serai?” dia tersenyum dan membuang nafas panjang tanda lega.  “ Mek a wish!” Tandasnya pelan dan geli sendiri. Tiga kata bahasa Inggris itu diucapkannya dengan enteng walaupun dengan aksen melayu yang kental. Dia tidak bodoh. Dia tahu ungkapan-ungkapan seperti itu, artinya dan mempraktekkannya. Sedangkan aku, aku tidak bisa melakukan itu, make a wish. Sudah lama aku tidak melakukan itu. Aku bahkan lupa dengan keinginanku. Hari-hariku berjalan seadanya dan realistis tidak hal yang begitu luar biasa untuk diimpikan.

Aku membiarkan telingaku mendengar cerita Serai tentang kisah cintanya dengan si Anton, lelaki yang bekerja tidak jauh dari rumah majikannya, tempatnya bekerja.  “ Dia tukang bangunan aja, Mba, orangnya ganteng ,baik lagi ! “ Jeda nafas di antara dua karakter itu menegaskan bahwa Serai jatuh cinta. Serai meraih ujung-ujung rambutnya dan kemudian menghela nafas. “ Tapi ….kami tak seiman, Mba!” mata itu sejenak sayu. Dia kembali menatap ke langit-langit halte kemudian ke arah alang-alang di dekat tanah lapang di seberang jalan yang samar dari pandangan karena terhalang air hujan yang cukup deras. Serai bercerita panjang lebar tentang asal-usulnya dan kedatangannya ke Pulau Batam, tentang kekasihnya yang tidak seiman, mimpi mereka untuk menikah, punya anak, dan mimpinya disela-sela tarikan nafas panjangnya dia bercerita banyak tentang masa  kecilnya, cita-citanya. Lugas dan sederhana. Dan dia bahagia.

Ya, Serai bercerita tentang kehidupan dengan penuh antusias, semangat walaupun  sedangkan aku, aku hampir mau mati bunuh diri karena lelah dengan hidupku. Aku kalah dengan Serai. Aku kalah bertarung, Perempuan ini memiliki  hidup, mimpi dan masa depan dari senyum itu, dari raut muka yang memahat sebuah harapan. Serai memilki mimpi seperti langit yang cerah setelah hujan. Dia bukan perempuan biasa yang aku temui di arisan, di reuni sekolah, di salon, di café. Dia wanita yang tangguh dan bukan aku. Aku adalah wanita yang hidup dalam hujan karena aku lebih menikmati menghitung setiap tetesan air hujan itu. Aku terkunci di situ. Dalam kesedihan aku sendiri, dalam duniaku yang sempit dan gelap, harapan seperti tidak pernah terbit seperti Matahari. Aku seperti orang buta yang tidak mau melihat dengan mata. Tapi perempuan ini dalam keterbatasannya dia baru saja mengatakan padaku bahwa kebahagiaan bukanlah pilihan namun sebuah keputusan.

“Aku miskin, Mba! Mamaku hanya hidup dari tani aja!, aku aja gak lulus SLB” dia tertawa kemudian melanjutkan ceritanya “ Tapi, kalau aku sekolah, aku sebenarnya ingin menjadi perawat lho, Mba! Akhirnya sekarang cuma jadi perawat anak-anak majikan aku “ . Aku tersenyum, dia sedikit tertawa.

Aku tersenyum dan terharu. Perkataan Serai barusan baru saja menamparku dengan keras. Aku punya segala-galanya tapi aku tidak bisa bercerita dengan antusias tentang mimpi seperti perempuan ini. Aku tak punya mimpi sejak aku kehilangan rasa percaya diriku akan hidup di masa depan. Suamiku yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit selama dua tahun ini, membuatku tak bisa bermimpi dan mati suri?. Aku tumbuh dari keluarga berada, lulusan universitas ternama dengan nilai terbaik, dan sekarang terdaftar sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta di Batam. Pernikahan aku hambar karena memberikan suamiku keturunan dan aku merasa Tuhan tidak cukup adil dengan membuat aku hidup. Aku  tidak bisa menjadi apa-apa. Aku tidak bisa menjadi sumber kebahagiaan di rumah tanggaku. Walaupun suamiku tidak keberatan dengan hal itu namun suamiku sekarat saat ini dan mungkin dia akan pergi meninggalkan aku tanpa pernah melihat anak-anaknya. Lalu apa yang bisa kubuat? Perempuan yang sejati adalah ketika dia sudah merasakan fase menjadi ibu. Dan itulah kehidupan ketika kita bisa memberi kehidupan. Lalu aku? Aku tidak pernah memahami  hidup ketika hidup tidak memberi makna, demikian pikirku dengan otak yang mengalami amnesia terhadap Tuhan. Inti Kemanusiaanku ketika aku lupa dengan Tuhanku dan semua RezekiNya. Aku buta.

Serai seperti gerai harapan yang terbuka dan memberi aku kunci untuk membuka mataku. Aku melihat sesuatu dari senyum yang ajaib itu terbentuk dari hati yang luar biasa indahnya  yang memancarkan sebuah kehidupan. Dia menerima kehidupannya dengan lapang dada dan terus bermimpi. Dia tetap cantik tanpa dandanan di wajahnya, walaupun sebelah mata dia tidak bisa melihat dan sering gagap. Serai itu bukan bunga tapi Serai yang ada disampingku ini seharusnya disebut bunga. Perempuan yang sempurna.  Serai itu hanyalah rumput  katanya . Tetapi Serai itu adalah tumbuhan yang bermanfaat, dapat melerai lapar dalam sekejab, member I aroma yang berbeda dan yang utama berkhasiat medis. Serai itu hanya sebuah tumbuhan hampir mirip alang-alang, atau yang kita sebut rumput tetapi yang paling harum. Aroma harum dari rumput itu sangat harum seperti perempuan itu. Bahkan lebih harum dari bunga. Aku seharusnya hidup dan harum bukan hanya sementara seperti keindahan mawar di pagi hari.

Hujan berhenti. Langit sangat cerah. Serai berpamitan dan dijemput Anton. Aku menjabat tangannya dan berterima kasih padanya karena dia baru saja memberikan aku aroma yang lain. Lemongrass.

“ Terima kasih, Serai! Panggil Aku Ross! “

 

@Batam, November 2th 2011

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.